Banner 468

Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan

Tolak Pekan Kondom Nasional!!!

Posted by muty on - -





    Hari AIDS sedunia diperingati pada tanggal 1 desember, dan dalam rangka memperingati hari itu, kementerian kesehatan membuat kebijakan "Pekan Kondom Nasional" selama seminggu dengan membagikan kondom kepada masyarakat yang berpotensi terkena AIDS.
    Miris sekali saya ketika mendengar kebijakan tersebut. Pembagian kondom bukanlah solusi baik dan bijak untuk mengatasi masalah AIDS di Indonesia, pembagian kondom hanya akan membuat seks bebas semakin merajalela. Satu-satunya cara untuk menghindari AIDS adalah dengan tidak melakukan seks bebas. Seharusnya kemenkes mensosialisasikan tentang buruknya dampak seks bebas terhadap kesehatan.
    Dalam salah satu berita yang saya baca di health.detik.com: 
    "Kalau ada orang diberikan kondom gratis lalu ia melakukan perilaku seks berisiko, tandanya memang sudah dari awal ia merencanakan hal itu," ujarnya pada Konferensi Pers Hari AIDS Sedunia yang bertempat di sekretariat Komite Penanggulangan AIDS Nasional, Jl. Johar, Menteng, Jakarta Pusat dan ditulis detikhealth pada Sabtu (30/11/2013).
    Menaggapi pernyataan tersebut, bahwa setiap perbuatan tersebut dilakukan boleh jadi karena ada niat dan boleh jadi juga tidak ada niat tapi karena ada kesempatan (dengan diberikan kondom gratis) akhirnya timbullah niat tersebut. 
    Negara lain boleh jadi menerapkan kebijakan ini tetapi bukan berarti setiap kebijakan dari negara lain diterapkan di negara kita. Kita memiliki budaya yang berbeda dengan mereka, terlepas dari aturan agama.
    Mau jadi seperti apa bangsa ini jika pemuda pemudinya banyak yang melakukan seks bebas, hanya laknat allah yang didapat. Saya sangat berharap kemenkes, khususnya ibu menteri bisa lebih bijaksana dalam mengambil keputusan.
    Broadcast dari temen saya, untuk penolakan terhadap hal ini, bisa menghubungi:
  1. Halo kemkes 021500567
  2. Sms 081281562620
  3. Email:  kontak@kemkes.go.id

  4.  sumber gambar: google search


[ Read More ]

Mengenal Lebih Jauh Tentang Obat

Posted by muty on - -



Setiap orang pasti tau dan pernah melihat obat, yaitu sesuatu yang dimakan atau digunakan ketika seseorang sakit agar tercapai kesembuhan. Mari kita baca dahulu pengertian obat menurut departemen kesehatan tahun 2006 tentang kebijakan obat nasional, obat adalah sediaan  atau  paduan  bahan-bahan  yang  siap  digunakan  untuk  mempengaruhi  atau  menyelidiki  sistim  fisiologi  atau  keadaan  patologi  dalam  rangka  penetapan  diagnosis,  pencegahan,  penyembuhan,  pemulihan, peningkatan,  kesehatan  dan  kontrasepsi.  Sedangkan pengertian obat di dalam sebuah buku farmakologi oleh bertram katzung adalah substansi  yang  membawa perubahan pada  fungsi biologis melalui aksi kimianya.

Hari ini kita hanya akan berbicara tentang obat sintetis atau obat dari bahan non-alami. Setiap obat yang masuk ke dalam tubuh kita akan diproses atau dimetabolisme (dalam hal ini kita hanya berbicara terkait obat yang masuk ke dalam tubuh secara oral). Hati adalah organ utama yang memetabolisme obat. Jaringan lain yang memiliki aktifitas metabolisme yang cukup berarti adalah ginjal salah satunya.

Salah satu fungsi obat memang sebagai penyembuh, tapi setiap kali hati terpapar oleh obat yang masuk ke dalam tubuh itu maka semakin cepat pula proses pengrusakannya. Karena itulah, obat tidak selamanya berfungsi sebagai obat, pada penggunaan yang tidak tepat obat malah dapat menyebabkan penyakit baru atau memperparah penyakit yang sudah ada.

Jadi, ketika anda sakit, jangan gunakan obat seandainya penyakit anda dapat sembuh tanpa obat, terutama untuk penyakit-penyakit yang sifatnya ringan, misalnya ketika demam anda dapat memperbanyak istirahat, banyak minum air hangat, makanan teratur dan gizi yang cukup. Insyaallah sembuh.



Sumber:
1. Departemen  Kesehatan  Republik  Indonesia.  (2006).  Kebijakan  Obat  Nasional.
Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia
2. Katzung, Bertram G. (2007). Basic & Clinical Pharmacology (10th edition). New
York: McGraw-Hill Companies

sumber gambar: google search

artikel ini juga ada disini
[ Read More ]

Tingkatkan Kualitas Kesehatan dengan Pembalut Kain

Posted by muty on - -


Hai women ^^
Penggunaan pembalut tidak dapat dilepaskan dalam kehidupan sehari-hari kita. Apakah itu pembalut sekali pakai atau pembalut kain. Kita telah mengetahui bahwa penggunaan pembalut atau pentyliner sekali pakai itu kebanyakan tidak baik bagi kesehatan. Pastinya lebih baik menggunakan pembalut dari bahan kain, baik untuk kesehatan dan ramah lingkungan.
 Zaman dahulu sebelum ada produk pembalut sekali pakai, tentunya kaum wanita menggunakan kain sebagai pembalut. Sekarang, sudah mulai banyak lho pembalut dari bahan kain dengan model seperti pembalut sekali pakai, atau disebut juga menstrual pad. Salah satu produk pembalut kain ini bermerek GG. Produknya ada pentyliner, pembalut untuk day dan night.  Pembalut ini, lapisan dalamnya terbuat dari microfleece, "Highly breathable", lembut dan cepat kering. Sedangkan  lapisan luar terbuat dari Polyurethane Laminate (0,8 mil) atau PUL originally developed untuk kebutuhan medis, lembut, lentur, waterproof namun tetap breathable. Sebagai penyerap digunakan bahan microfiber yang memiliki keunggulan hypoallergenic, antibacterial dan memiliki daya serap tinggi.
Untuk info lebih lanjut, silahkan kunjungi www.geegallery.com


[ Read More ]

Obat Sintetis atau Obat Alami?

Posted by muty on - -

herbs (FILEminimizer)
Jaman nenek moyang kita dahulu, pengobatan dilakukan dengan mengambil bahan-bahan dari alam. Dan hari ini kita mendengar, khususnya saya, bahwa pengobatan itu banyak juga yang berhasil. Walaupun obat-obat yang digunakan tersebut tidak melalui pengujian praklinik dan klinik terlebih dahulu. Ketika zaman mulai maju, pengobatan tradisional tersebut mulai ditinggalkan, masyarakat lebih tertarik dengan perkembangan pengobatan yang memanfaatkan teknologi terkini yang telah melalui pengujian praklinik dan klinik.
Tapi dewasa ini, dengan semakin terbukanya mata masyarakat akan banyaknya efek samping yang ditimbulkan karena penggunaan obat-obat modern, tidak sedikit juga masyarakat yang kemudian beralih lagi melakukan pengobatan dengan cara tradisional menggunakan bahan-bahan alam. Walaupun pada kenyataannya penggunaan bahan-bahan alami tidak menjamin tidak ada efek sampingnya. Tapi bagaimanapun, sesuatu yang alami itu memang lebih baik. Contoh saja pada makanan, orang yang sehari-harinya hanya memakan makanan yang dimasak sendiri tanpa penambahan penyedap buatan, tubuhnya insyaallah akan lebih sehat daripada orang-orang yang sehari-harinya sering makan makanan yang mengandung penyedap dan pewarna, dan juga orang yang sering makan junk food. Orang seperti yang terakhir ini, biasanya lebih banyak menderita penyakit-penyakit berbahaya seperti kanker.
Kembali ke permasalahan mengenai obat-obatan, walaupun menurut saya dan beberapa orang bahwa pengobatan menggunakan bahan alami adalah lebih baik, tetapi untuk tujuan tertentu, pengobatan menggunakan obat-obat modern ternyata lebih baik. Salah satunya dalam hal kecepatan pengobatan. Penggunaan obat-obat alami mungkin juga memberikan efek tapi karena progres pengobatannya yang lama, sehingga hampir-hampir terlihat tidak berefek. Tapi ada juga beberapa obat alami (yang saya denger akhir-akhir ini) untuk penyakit tertentu dan pada orang tertentu, ternyata memberikan progres yang sangat baik dan cepat dalam pengobatannya, bahkan untuk penyakit berbahaya sekalipun.
Hmm…bingung y jadinya mau pake obat-obat modern atau obat tradisional. Bahkan pemilihan untuk obat-obat modern sekalipun, sangat sulit untuk diputuskan. Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Siapa penderitanya, berapa umurnya, apa penyakit dan bagaimana kondisi klinisnya, obat apa yang pernah dan sedang dikonsumsi, obat apa yang menyebabkan alergi, berapa harga obat dan bagaimana kemampuan penderita untuk membeli obat tersebut dan masih banyak lagi.
Begitulah dunia pengobatan, sulit sekali memutuskan obat terbaik yang akan digunakan untuk penyakit tertentu dan pada pasien tertentu juga. dan itulah salah satu pekerjaan kami, farmasis.

sumber gambar: corbisimages.com dan google search


artikel ini juga ada disini
[ Read More ]

Berjalan Dapat Mencegah Wanita Untuk Stroke: WHS Long-Term Follow-Up

Posted by muty on - -

8 april 2010 - wanita yang berjalan dua jam atau lebih dalam seminggu, apalagi dalam langkah cepat, cendrung lebih terhindar terhadap stroke daripada wanita yang tidak berjalan, berdasarkan penemuan dari Women's Health Study (WHS).
Resiko terjadinya stroke lebih rendah 30% pada wanita yang berjalan 2 jam atau lebih tiap minggu. Apalagi wanita yang berjalan cepat (>4.8 km/hour) memiliki resiko 37% lebih rendah daripada yang tidak sering berjalan kaki.
Wanita yang berjalan minimal 2 jam tiap minggu jugga memiliki resiko 57% lebih rendah terkena hemorrhagic stroke daripada yang tidak ada berjalan kaki. Apalagi jika berjalan cepat yaitu lebih dari 4.8 km/hour memiliki resiko 68% lebih rendah terkena hemorrhagic stroke daripada yang tidak. Menariknya, pada beberapa penelitian, aktifitas fisik yang giat tidak dihubungkan dengan resiko stroke.
Ada perbedaan pernyataan antara asosiasi waktu total aktifitas fisik dan total resiko terhadap stroke iskemik, tapi hal ini oleh asosiasi tersebut berada dalam batas yang signifikan. Walaupun demikian, wanita yang melakukan aktifitas fisik lebih giat, memiliki 17% resiko terkena berbagai macam stroke daripada yang kurang beraktifitas. Selain dapat mencegah stroke, aktifitas fisik yang giat juga dapat meminimalkan penyakit jantung.
Studi penelitian
Pada penyelesaian yang telah terjadwal pada maret 2004, wanita yang berpartisipasi diundang untuk penelitian ini; 88% dari kelompok WHS masih melakukan aktifitas tersebut. Pada dasarnya, para wanita diminta untuk mengukur rata-rata waktu yang dihabiskan pada 8 kelompok yang melakukan aktifitas rekreasi selama setahun terakhir seperti jalan atau hiking, jogging, berlari, bersepeda, senam aerobic, latihan aerobic, menggunakan alat olahraga, bermain tennis atau badminton, renang, dan latihan denganintensitas rendah termasuk yoga.
Dalam penelitian, kelompok-kelompok di stratifikasi pada kelompok yang tidak melakukan aktifitas berjalan secara teratur dan pada kelompok yang berjalan dengan kecepatan kurang dari 3.2 km/hour, 3.2 to 4.7 km/hour, 4.8 to 6.3 km/hour, or 6.4 or more km/hour (a striding pace). Selama pengamatan, 579 total terjadi strokes: 473 ischemic strokes, 102 hemorrhagic strokes, and 4 strokes dengan tipe yang tidak diketahui.
"tidak ada gejala yang linear secara keseluruhan terhadap penurunan resiko total stroke terhadap kategori aktifitas yang giat...and findings for ischemic stroke again mirrored those for total stroke," the investigators observe.
Umur maupun indeks massa tubuh tidak memodifikasi hubungan antara aktifitas fisik dengan resiko stroke.
Table. Resiko stroke berdasarkan lama waktu berjalan selama 3 tahun pengamatan
Time spent walking at baseline/at 3 years (hours per week) <2/<2 <2/≥2 ≥2/<2 ≥2/≥2
Total stroke, No. of cases 117 29 26 31
Ischemic stroke, No. of cases 98 28 19 26
Hemorrhagic stroke, No. of cases 19 1 7 5

Intensitas aktifitas yang giat
As investigators observed, it is not entirely clear why there was an association between walking, a moderate-intensity activity, and stroke risk yet no association with vigorous-intensity activity. "Participation in vigorous activities was far lower than moderate activities such as walking in the present cohort," they note, "which may reduce our ability to observe an effect."
Penjelasan lain oleh Mr. Sattelmair adalah aktifitas berlebihan yang kurang seperti berjalan memiliki efek yang lebih baik pada tekanan darah, yang merupakan factor resiko yang signifikan untuk hemorrhagic and ischemic stroke.
Jalan cepat
Commenting on the study to Medscape Neurology, Frank Hu, MD, PhD, Harvard School of Public Health, noted that findings from the Nurses’ Health Study published in the Journal of the American Medical Association 10 years ago on which he was the first author mirror those reported in the current WHS study (2000;283:2961-2967).
"kami menemukan bahwa peningkatan aktifitas fisik termasuk jalan cepat dapat mencegah serangan stroke, terutama iskemik stroke, pada wanita usia pertengahan dan wanita usia tua," Dr. Hu said, "and in our study, the predominant form of physical activity was walking as well."
Ada hubungan “respon dosis” antara banyak waktu yang digunakan untuk berjalan dengan penurunan resiko stroke pada penelitian Nurses' Health Study, dan wanita yang berjalan lebih cepat memiliki resik lebih rendah terserang stroke daripada yang lain.
Inti dari hal ini adalah aktifitas fisik, memiliki keuntungan untuk mencegah stroke," Dr. Hu concluded.
The WHS was supported by grants from the National Institutes of Health. Mr. Sattelmair is a part-time employee of the Dossia Consortium. Dr. Hu has disclosed no relevant financial relationships.
Stroke. Published online April 6, 2010.
NB: tulisan ini bersumber dari artikel kesehatan medscape. Saya mohon maaf atas salah arti dan ada beberapa kalimat yang masih dalam bahasa inggris.

sumber gambar: google search
[ Read More ]